
AROGAN adalah sebuah kata yang cukup bisa membuat orang yang terkena atau menjadi tujuan lontaran kata ini merah telinga dan pada titik-titik tertentu merasa terhina. Reaksi semacam ini bisa terjadi karena secara umum khalayak memahami arti kata ini mengacu kepada sesuatu/ sikap negative—sombong, angkuh. Inilah yang terjadi dengan Ahmad Dhani ketika dia melontarkan satu kalimat pendek seperti dia atas untuk menyebut Bung Karno. AROGAN, adalah biang munculnya reaksi keras dari Sukmawati , putri ketiga Bung Karno dan para Sukarnois yang merasa Dhani melalkukan contempt of National Figure.
Reaksi-reaksi semacam itu syah dan wajar-wajar saja. Sama halnya dengan wakil-wakil rakyat yang oleh Slank disebut sebagai mafia Senayan yang kerjanya buat peraturan…, yang merasa “gerah” dan bermaksud memperkarakan SLANK (tapi gak jadi, what happen, ayak naon). Para Sukarnois pun seperti itu. Mereka marah karena sosok yang mereka hormati dihinakan dengan sedemikian rupa oleh orang yang mengaku diri sebagai Sukarnois sejati (Dhani). Apapun reaksi yang ditunjukkan, paling tidak ada satu pertanyaan yang ada di kepala saya:”Benarkah Dhani melakukan contempt of National Figure dengan dan melalui kata yang diucapkannya—AROGAN?
Untuk membuktikan kebenaran hal tesebut, ada baiknya kita mulai melangkah dengan menyelidiki arti kata tersebut. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan kata ini sebagai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau kepongahan; keangkuhan. Khalayak berpendapat kata ini berkonotasi negative sehingga tidak layak untuk diaplikasikan kepada sosok Bung Karno. Memang, makna yang lebih menonjol dari kata ini adalah citra negatifnya. Namun begitu, apakah ini satu-satunya dasar yang dipakai untuk menilai dan menghakimi bahwa Dhani melakukan pelecehan terhadap Bung Karno? Tentu tidak.
Saya bukan penggemar Dani dan BoloDewo. So, tidak ada pretensi apapun untuk meringankan kemarahan dan ketidaksenangan Sukarnois terhadap Dhani karena apa yang diucapkannya—AROGAN. Yang saya lakukan di sini hanya berusaha untuk memberikan sumbangan pemikiran kenapa hal ini terjadi. Menurut saya, Dhani tidak melakukan penghinaan atau pelecehan setelah melihat dan menyimak penjelasannya terkait hal ini dalam acara SILET pada 15 April 2008. Dari penjelasan yang diberikannya, saya menyimpulkan bahwa yang terjadi adalah misunderstanding. Dhani kurang memahami makna kata ini yang sesungguhnya karena tertutup oleh over confidence-nya.
SUKARNO BUKAN SEORANG AROGAN TETAPI GENTLEMAN
Ribut-ribut soal AROGANNYA Sukarno, justru mengarahkan saya untuk melihat kembali sosok dan kepemimpinan beliau walaupun saya tidak mengalami masa kepemimpinan beliau dan melihat kehidupan pribadinya secara langsung. Soekarno, bagi saya, bukan seorang yang arogan. Apalagi, kalau ukuran kearoganan itu hanya diberikan oleh seorang Ahmad Dhani untuk membela diri dan sikapnya yang memang arogan. Sokarno bukan Dhani! Begitu juga sebaliknya. Jauh bumi dari langit kalau Dhani hendak menyamakan dirinya dengan sosok Bapak Bangsa. Jauh dan masih sangat jauh!
Soekarno adalah seorang gentleman. Terlepas dari banyaknya kekurangan Soekarno sebagai manusia yang tidak sempurna seperti kita, dia adalah seorang gentleman dan pemimpin sejati. Ke-gentle-an Bapak bangsa ini bisa kita lihat ketika dia dengan berani mengahadpi tekanan-tekanan pihak musuh (penjajah) karena sikapnya yang keras untuk membawa bangsanya menuju kemerdekaan. Ketabahan menghadapi dan merasakan pengapnya bilik-bilik penjara dan sepinya pengasingan itulsh ysng membuatnya sebagai seorang yang gentle. Soekarno tahu betul apa yang dilakukannya dan betul-betul siap menghadapi konsekuensinya.
Sosoknya sebagai pemimpin sejati terbukti ketika dengan lanntang dan berani dia menyatakan:”Go to Hell with your aid” dan “Ganyang Malaysia,” ketika martabat dan kehormatan bangsanya terancam diinjak-injak oleh bangsa lain. Ini yang kurang bahkan tidak dimiliki oleh sebagian pemimpin nasional setelahnya.
Sebagai seorang pemimpin sejati, Soekarno mampu dan telah terbukti dan teruji oleh zaman, melepaskan diri dari godaan untuk memperkaya diri dengan memperkosa jabatan. Soekarno bukan pemimpin yang kemaruk dan haus harta. Dwi tunggal sejati—Soekarno dan Hatta adalah sosok pemimpin yang karena kesadaran dan ketulusan hatinya rela “kere” demi bangsanya. Berapa banyak pemimpin nasional setelah mereka yang mempunyai sikap seperti ini. Boro-boro rela “kere”, diminta menyerahkan daftar kekayaan saja sulitnya minta ampun.
Mengacu kepada sikap gentlenya ini, naïflah kalau Dhani berusaha menyamakan dirinya dengan sosok Sukarno. Sukarno bukan dan tidak arogan tetapi seorang gentleman sejati. Kalau Dhani…, tahu sendirilah. Sehebat dan sengetop apapun dia, Dhani tetaplah Dhani dan Soekarno adalah Soekarno yang kualitasnya sudah teruji dan terbukti melalui waktu dan sejarah. Bahaya memang kalau karena over confidence kita berbicara asal-asalan. Apalagi, kalau yang kita lakukan dan omongkan hanya untuk mendapatkan pembenaran atas sikap-sikap kita yang kurang simpatik. Anda sependapat dengan saya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar